Liga 1

Saya jadi bertanya-tanya apakah Indonesia memang tak mampu, jika menyebut tidak becus terlalu lebay, membuat tata kelola sepak bola dengan bagus, baik, apalagi benar.

Sebenarnya dari awal saya tak berani berharap banyak saat rezim baru PSSI pimpinan sang letnan jenderal Edy Rahmayadi terbentuk. Gerak gerik mereka dari awal memang lebih baik dibanding rezim-rezim terdahulu, apalagi rezim kali ini punya dukungan RI 1.

Namun tunggu dulu bila bicara urusan teknis manajemen sepak bola secara keseluruhan. Padahal ini lapangan utama PSSI. Ini intinya.

Manajemen timnas sejauh ini memang ok, terlepas dari fasilitas yang masih terbatas dan gagap. Ini juga masih perlu ditunggu bagaimana PSSI memanfaatkan kalender internasional, apakah mereka sudah punya rencana lawan latih tanding hingga akhir tahun dan seterusnya.

Sejauh saya duga, belum ada. Boleh jadi karena fokus PSSI adalah SEA Games 2017 dan medali emas adalah target. Itu sebabnya tata kelola pelatnas semi-panjang nan kuno itu masih dianggap solusi cespleng.Tapi ini soal lain.

Masalahnya pengelolaan liga masih jauh api dari panggang. Kapasitasnya belum beranjak dari tata kelola ISL atau Ligina.

Liga 1, nama baru sebagai bentuk penegasan sebuah rezim di bawah tata kelola perusahaan yang berkostum baru (dengan nama miskin fantasi; PT. Liga Indonesia Baru), justru terlihat melangkah mundur.

Di mana langkah mundurnya?

Liga 1 adalah level kompetisi (profesional) tertinggi di Indonesia. Namun PT. LIB (PSSI) justru mewajibkan semua klub di kasta itu wajib mengontrak lima pemain muda U-23. Sebagian dari mereka bahkan harus jadi starter pada setiap laga.

Kemudian klub juga dibatasi merekrut pemain uzur. Namun klub boleh merekrut seorang marquee player yang spesifikasinya adalah pemain ampas di kompetisi/klub utama Eropa atau Piala Dunia.

Tak beda-beda amat dengan praktik di MLS.

Lalu ada pula peraturan pergantian maksimal lima pemain bagi setiap tim dalam pertandingan. Entah wangsit dari mana yang membuat PSSI punya ide menerapkan aturan tak lazim itu.

PSSI memang punya alasan untuk sejumlah aturan main di atas. Mereka ingin menghasilkan sebanyak mungkin pemain muda U-23. Bahkan sekaligus mematangkannya.

Betapa ironis.

Pemain U-23 ingin dimatangkan dengan cepat. Lalu digodoknya di level tertinggi profesional yang aturan rimbanya adalah; siapa (relatif) mampu boleh ikut.

Liga 1 tidak seharusnya dibonsai sedemikian rupa. Pemain U-23 tidak harus menjadi pemain senior dalam seketika. Bila dia memang harus punya level senior (untuk membela kesebelasan nasional senior) biarlah itu datang dengan alami karena memenangi persaingan dan karena keunggulan keterampilannya.

Memaksa pelatih klub untuk menurunkan pemain U-23 sebagai starter justru bisa menurunkan kualitas tim/klub. Seorang pemain perlu diturunkan karena kualitasnya, bukan karena aturan. Kecuali ini bukan di kompetisi level tertinggi.

Itu sebabnya pergantian lima pemain pun menjadi aneh. Apalagi alasannya hanya ingin memberi lebih banyak jam terbang bagi banyak pemain.

Sungguh alasan yang tidak masuk nalar. Ini lagi-lagi mendobrak hukum rimba sebuah kompetisi pro yang nafasnya adalah persaingan ketat. Siapa yang punya kualitas pasti akan didahulukan pelatih, jadi bukan karena untuk memberi jam terbang.

Jadi bila ingin memberi jam terbang lebih banyak kepada pemain muda, kenapa tidak membuat kompetisi sempalan khusus yunior. Misalnya di luar liga nusantara yang masuk dalam piramida sepak bola nasional (ini sebenarnya juga belum jelas wujudnya).

Pergantian lima pemain bukan cuma mendobrak aturan resmi FIFA (untuk kasta kompetisi resmi), namun juga bisa merepotkan klub Indonesia apabila tampil di kompetisi regional Asia. Kebiasaan mengganti lima pemain adalah haram di luar negeri.

Jadi memang aneh.

Kenapa tidak membuat sejenis liga reserves yang bisa diikuti pemain maksimal U-23. Bikin aturan yang “relatif bebas” di sini karena toh juaranya atau tim juru kuncinya tak akan punya implikasi signifikan apapun pada tatanan piramida kompetisi.

Liga reserves justru bisa memberi dua keuntungan; untuk timnas dan klub. Bila ada pemain yang bagus di sana bisa jadi andalan timnas dan juga pasti diangkut klub untuk diturunkan di Liga 1.

Tapi bukankah liga reserves justru bikin bengkak ongkos operasional klub? Mereka harus punya satu tim pemain U-23 (minimal 18 pemain)? Ya itu risiko pembangunan sepak bola. Poinnya, pemain muda dibangun di level bawah –bukan di level teratas, kecuali kualitas si pemain memang terbukti cukup pantas ada di level atas.

prize money

Secara umum urusan ini relatif membaik. Di luar subsidi Rp7,5 miliar yang pembagiannya bertahap itu, PSSI menerapkan hadiah uang berdasarkan kinerja klub dalam semusim.

Bila sebuah klub berhasil juara, total uang yang diperoleh termasuk subsidi menurut sang ketua PSSI adalah sekitar Rp17 miliar. Uang datang dari pembagian kue iklan di televisi.

Sayang belum detail. Lagi-lagi ini kenapa label tidak becus terbayang di kepala.

Membuat liga tanpa aturan main detail memang sudah biasa di sini. Jadwal pun dibuat sambil jalan. Bahkan Liga 1 masih pakai “sistem turnamen” karena ada partai pembukaan –bukan serempak seperti lazimnya di Eropa.

Ya Bundesliga musim ini juga dibuka dengan partai bigmatch tunggal, tapi jadwal semusim penuh sudah tersedia. Liga 1 justru belum punya jadwal selain partai pembuka Persib vs Arema.

Namun kesan manajemen semi-pro seperti ini memang khas sepak bola Indonesia. Semoga saja Liga 1 bisa rampung seperti halnya ISL yang sebobrok apapun selalu finis hingga garis akhir, kecuali forced majeur.

 

Advertisements
Liga 1

Transfer

Mungkin baru musim panas (belahan barat) 2016 ini masa akhir bursa transfer begitu riuh. Nama tenar sejumlah pemain memberi pengaruh.

Mereka terbuang dari klub masing-masing. Padahal mereka sempat jadi tulang punggung klubnya pada musim lalu.

Sebut saja antara lain Cesc Fabregas (Chelsea), Joe Hart dan Samir Nasri (Manchester City), serta Mario Balotelli (Liverpool). Mereka dilepas klub masing-masing karena tak terpakai lagi (untuk sementara).

Pertanyaannya tentu kenapa nasib mereka baru bisa diketahui pada menit akhir transfer? Kenapa tidak dari awal?

Apakah ini bagian dari panic selling –juga panic buying– seperti kerap dibikin Arsene Wenger di Arsenal? Continue reading “Transfer”

Transfer

Dapur

Saya tergelitik ketika membaca buku perdana Mifthakul ( @fim_mifta ), “Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut”. Tapi justru bukan oleh isi buku, melainkan oleh salah satu kata pengantarnya.

Buku itu menyambut pembacanya dengan dua kata pengantar. Pertama, oleh Zen RS dan kedua, oleh pemain senior Indonesia Bambang Pamungkas (BP). Kata pengantar dari Zen yang memicu saya menulis (lagi) di blog ini.

Soal sepak bola, saya dan Zen sering sepaham. Kami juga kerap tukar pikiran dalam banyak hal, baik lewat daring maupun luring. Lagi pula, siapa tak sudi berdiskusi dengan mentor menulis nan yahudi, kutu buku, andal sejarah, dan punya memori fotografik seperti dia. Apalagi dia tak pernah mendominasi atau jumawa. Bahkan saya pernah dibagi kehormatan saat dia mengirim tulisan reportase sepak bola pertamanya agar saya periksa =))

Tapi kali ini, saya tak sepaham. Saya silang sikap dengannya soal poin dapur klub dan sepak bola Indonesia (satu dari tiga poin) dalam kata pengantarnya. Zen secara sadar membatasi diri untuk tahu detil dapur klub dan bahkan sepak bola Indonesia. Continue reading “Dapur”

Dapur

Vietnam 2-2 Indonesia

Sedikitnya enam kerabat menanyakan prediksi saya menjelang Vietnam vs Indonesia, di ajang AFF 2014 kemarin (22/11). Dengan lugas, saya jawab, “Indonesia tak akan menang.” Sebagian dari mereka berasumsi, artinya kalah. Padahal “tak mungkin menang” juga bisa berarti imbang. Jawaban lanjutan saya pada mereka, “Mungkin imbang.”

Nyatanya itu terjadi. Sesuai dugaan. Tertinggal, menyamakan, tertinggal lagi, dan menyamakan kembali. Artinya hasil melawan Laos dalam partai pertama ajang serupa dua tahun lalu akan terulang. 2-2.

Namun di lapangan, pelatih Indonesia Alfred Riedl memberi kejutan. Tim asuhannya bermain dalam tempo sangat lambat dan mengalirkan bola secara langsung (direct). Dugaan saya, itu disengaja. Itu strategi Riedl dan staf pelatihnya. Continue reading “Vietnam 2-2 Indonesia”

Vietnam 2-2 Indonesia

Liga Indonesia sebaiknya dibubarkan*

Habis. Tamat. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari Liga Indonesia – baik yang super (ISL) maupun utama (DU). Masalah praktik utang gaji tanpa kejelasan pelunasan, bahkan ada pula hingga pemain asing tutup usia, kematian suporter, dan kini dilengkapi pertandingan akal-akalan. Hanya untuk menghindari lawan tertentu, para pemain di dua klub rela menjatuhkan martabatnya sedemikian rupa.

Insiden menyedihkan itu terjadi dalam partai PSS Sleman vs PSIS Semarang (3-2) di Yogyakarta pada 8 Besar Divisi Utama 2014 hari Minggu (26/10). Lima gol pada pertandingan itu tercipta lewat bunuh diri. Semua gol juga bukan datang dari permainan layaknya sebuah pertandingan. Orang teringat pada insiden “sepak bola gajah” Indonesia di Piala Tiger 1998. Andai gajah bisa bicara, dia pasti marah. Dia pasti tersinggung karena sosoknya tinggi besar. Sedangkan “pertandingan” seperti di atas justru memalukan dan kerdil. Lebih baik sebut “sepak bola tikus” meski binatang pengerat ini tak pernah main bola. Continue reading “Liga Indonesia sebaiknya dibubarkan*”

Liga Indonesia sebaiknya dibubarkan*

Blog cuma wadah

Sebagian ucapan populer sastrawan Pramoedya Ananta Toer adalah soal menulis. “Menulislah sedari SD, apapun yang ditulis sedari SD pasti jadi.” Atau “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Bagi saya, ucapan Pram bermakna dalam. Itu sebabnya dalam beberapa kesempatan kecil kelas blogging, saya selalu mengawalinya dengan “menulis.” Paman Tyo selalu mengatakan, “Semua orang (yang melek aksara dan literasi) bisa menulis.” Ngetik SMS, ngetwit, atau mungkin mencatat poin penting dalam bekerja. Soal apakah itu ditulis dengan tangan atau diketik, itu cuma soal teknis. Continue reading “Blog cuma wadah”

Blog cuma wadah

Timnas U19 pasca Myanmar*

Di negara manapun, timnas selalu punya dua efek. Dipuji saat unggul atau juara, dicaci ketika kalah. Begitu pula sambutannya. Ada yang membela, ada yang menghujat. Sungguh wajar dan lumrah.

Demikian pula yang terjadi ketika timnas Indonesia U19 gagal di Piala Asia U19 Myanmar 2014. Linimasa bergolak. Sebagian membela, sebagian mencela — lebih besar melayangkan serapah ke PSSI. Sekali lagi, wajar dan lumrah.

Orang bebas bicara apapun soal timnas. Dia seolah representasi kebangsaan dan negara. Tapi marah dan kecewa hanya karena timnas yunior gagal? Rasanya kok terlalu berlebihan. Mungkin karena kosmetik nasionalisme. Tentu saja PSSI boleh dijadikan kambing hitam karena ini bentuk kegagalan. Tapi ini juga bukan barang baru. Kapan PSSI pernah berhasil membentuk timnas berprestasi dalam dua dekade terakhir? Continue reading “Timnas U19 pasca Myanmar*”

Timnas U19 pasca Myanmar*