Pilkada Boleh, Kenapa Liga 1 Tidak

Liga 1 2020 (Liga-Indonesia.id)

Simpati saya buat para pemain Liga 1 (juga atlet olahraga lain) yang dompetnya kempes akibat tak ada kompetisi. Juga untuk para pelatih dan staf klub.

Imbas pandemi Covid-19 memang ke mana-mana, tanpa pandang bulu. Industri dan bisnis lain pun nggak luput kena efek. Belum lagi ada pembatasan kegiatan.

Tapi kenapa pilkada, termasuk kampanyenya dengan konser dangdut boleh digelar.

Atau boleh lainnya adalah demo melawan Omnibus Law. Padahal hajat dua agenda itu mendatangkan massa dalam jumlah banyak dan boro-boro jaga jarak.

Lantas kenapa kompetisi sepak bola nasional seperti Liga 1 tak diizinkan bergulir? Bahkan dari sudut logika, jika Liga 1 digelar, risiko menjadi klaster Covid-19 tak akan sebesar seperti penggalangan massa pilkada dan demo.

Continue reading “Pilkada Boleh, Kenapa Liga 1 Tidak”

Lionel Messi

The covers of newspapers inform on Argentinian forward Lionel Messi’s wish to leave FC Barcelona, on August 26, 2020, in Barcelona. – Six-time Ballon d’Or winner Lionel Messi told Barcelona he wants to leave — on a free transfer — in a “bombshell” fax yesterday that is expected to spark a legal battle over a buy-out clause worth hundreds of millions of dollars. Signalling the end of an era at Barcelona, where Messi is the record scorer and has won four Champions League titles, the disgruntled Argentine wants to terminate his contract “unilaterally” by triggering a release clause, a source told AFP. (Photo by Pau BARRENA / AFP) (Photo by PAU BARRENA/AFP via Getty Images)

Lionel Messi, kapten dan megabintang Barcelona, pingin pergi dan memutus kontraknya di Barcelona.

Gelagat sebenarnya sudah bisa dibaca sejak Messi berantem dengan Eric Abidal. Orang Prancis ini adalah bekas rekan seklub Messi, tapi bukan lagi “kawan” ketika Abidal menjadi Direktur Sport Barca.

Tak lama kemudian Abidal memilih mundur, mungkin tak mau bikin klub gonjang-ganjing. Bagi Barcelona, itu situasi yang tidak harmonis. Anda tak mungkin berantem dengan direktur, sebenar apapun Anda.

Ada urusan hierarki dan adab.

Continue reading “Lionel Messi”

Timnas Naturalisasi

“Children’s Football and Goalpost in Back Garden” by footycomimages is licensed under CC BY 2.0

Kontroversi sepak bola nasional muncul lagi. Kali ini, timnas Indonesia kepingin merekrut sekelompok pemain belia asal Brasil.

Para pemain impor itu dibidik untuk meningkatkan level timnas junior Indonesia yang bakal main di Piala Dunia U-20 2021. Sekilas wajar, karena Indonesia bakal jadi tuan rumah.

Tentu saja Indonesia nggak mau cuma sukses jadi tuan rumah, tapi juga sebagai kontestan. Minimal tidak dipermalukan atau jadi bulan-bulanan para tim mapan. Kelihatannya lumrah, padahal sebaliknya.

Mendatangkan pemain impor, kemudian diberi paspor hijau berlogo burung garuda, dan selanjutnya mengenakan kostum merah putih, adalah tindakan yang sesungguhnya tak perlu.

Continue reading “Timnas Naturalisasi”

RB Leipzig

gettyimages-1267046678-594x594
LISBON, PORTUGAL – AUGUST 18: Marquinhos of Paris Saint-Germain scores his team’s first goal during the UEFA Champions League Semi Final match between RB Leipzig and Paris Saint-Germain F.C at Estadio do Sport Lisboa e Benfica on August 18, 2020 in Lisbon, Portugal. (Photo by Julian Finney – UEFA/UEFA via Getty Images)

Ketika hasilnya zonk, RB Leipzig tersungkur pada semifinal –apalagi melihat kekalahan 0-3 dari Paris Saint-Germain (PSG), saya cukup kaget.

Saya memprediksi Leipzig akan mencatat sejarah ke final karena kemenangan 2-1 atas Atletico Madrid yang mengantar mereka ke semifinal.

Continue reading “RB Leipzig”

Piala Dunia U-20

Ada sedikit euforia ketika Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Maklum ini turnamen dunia pertama di Indonesia (walau cuma kelas junior) setelah ajang regional Piala Asia 2007 dan Asian Games 2018.

Persoalannya, Indonesia cuma terpaku pada stadion pertandingan. Itu memang utama, tapi bukan satu-satunya. Pekerjaan rumah sebagai host turnamen macam Piala Dunia FIFA memang berjibun.

Sebagian besar dari 10 stadion yang disiapkan oleh pemerintah dan PSSI memang hanya perlu pembenahan sedikit agar sesuai dengan standar mutu FIFA. Namun, urusannya bukan cuma fasilitas teknis utama seperti lapangan yang harus bintang lima, tapi juga fasilitas pendukung macam ruangan wasit, shower room, ruang jumpa pers, dan lain-lain yang banyak sekali.

Ada syarat lain yang perlu diperhatikan Indonesia dan negeri ini masih kekurangan, yaitu lapangan latihan. Tapi mari kita berasumsi hal itu sudah ada dalam detail proposal PSSI untuk menyisihkan Peru dalam persaingan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20.

Maklum, lapangan latihan menjadi satu di antara prasyarat bidding untuk menjadi tuan rumah. Misalnya; penyelenggara harus menyediakan minimal 4 lapangan latihan di satu kota pertandingan.

Contoh di Surabaya; berarti PSSI mesti menyiapkan minimal 4 lapangan latihan di kota itu. 2 lapangan di antaranya harus punya lampu dengan standar kualitas cahaya sesuai teknis FIFA.

Kemudian, semua lapangan latihan harus punya kualitas rumput dan teknis yang sama dengan pertandingan. Kecuali dalam kondisi khusus FIFA menyatakan berbeda.

Lantas, fasilitas latihan itu juga harus punya kamar ganti kecuali jaraknya tidak lebih dari 20 menit dari hotel. Fasilitas latihan juga harus privat alias minim gangguan atau penonton dan jaraknya maksimal 30 menit dengan mobil atau bus dari hotel tim.

Syarat ini sebenarnya relatif lebih ringan dibanding bila ingin menggelar Piala Dunia tim senior. Untuk tim senior, calon tuan rumah harus menyediakan minimal 48 tempat latihan dan base camp bagi tim peserta. Tapi di dalam proposal, calon tuan rumah harus menyertakan masing-masing 72 tempat latihan dan base camps.

Nah, apakah Indonesia punya lapangan latihan dengan standar begitu? Punya, tapi cuma sangat sedikit. Boleh jadi jumlahnya tak sampai 5. Kita bisa lihat bagaimana mutu lapangan latihan tim-tim Liga 1. Jika tak mau dikatakan di bawah standar, mutunya cuma sekadarnya.

Sewaktu Piala Asia 2007, satu di antara keluhan yang muncul adalah lapangan latihan. Arab Saudi, misalnya, tak bisa latihan dengan leluasa (taktik atau teknik) karena mereka mendapat lapangan latihan PTIK di Jakarta yang kualitasnya di bawah standar.

Menurut pelatih Arab dari Brasil ketika itu, lapangan tidak rata. Jika dipakai untuk latihan serius, dia bilang pemainnya bisa cedera engkel. Kualitas di bawah standar bukan cuma di PTIK, tapi juga lapangan di Stadion Kuningan dan bahkan lapangan latihan timnas Indonesia di Senayan.

Itu sebabnya AFC sempat mengatur jadwal latihan di Stadion Utama GBK sebagai satu-satunya lapangan yang representatif untuk Arab, Korsel, Bahrain, dan Indonesia . Itu pun dengan konsekuensi durasi latihan setiap tim dikurangi. Apa boleh bikin.

Sikap FIFA soal ini akan berbeda. Mereka biasanya zero tolerance dan memonitor ketat. Apalagi, meski cuma level U-20, tetap saja ini Piala Dunia yang sudah pasti akan diikuti oleh negara-negara mapan sepak bola macam Brasil, Spanyol, atau Jerman. Mereka pasti menuntut kualitas teknis latihan dan bermain yang relatif sama dengan di negara asal.

PSSI bersama pemerintah harus bekerja keras menyediakan lapangan latihan kelas dunia ini. Tentu saja ini bisa berguna bagi tim-tim lokal (Liga 1 atau Liga 2) sepeninggal Piala Dunia U-20.

Ini satu di antara manfaat menyelenggarakan turnamen kelas dunia under FIFA. Standar fasilitas harus bintang 4 dan 5. Bila Indonesia mampu mewujudkan sejumlah fasilitas kelas satu itu, tentu saja ini bisa menjadi sedikit kemajuan dalam persepakbolaan tanah air.

Lagu lama

Publik seolah kaget bahwa timnas senior Indonesia kalah (lagi). Padahal ini lagu lama. Indonesia lebih banyak kalah dibanding menang, terutama di partai resmi –bukan friendly (persahabatan, latih tanding). Jadi bukan kejutan (buat saya).

Ketika kalah 2-3 dari Malaysia kemarin dulu itu; orang menyebut permainan Indonesia jelek dan nggak enak dilihat. Tidak sedikit menyebut para pemain Indonesia nggak punya otak atau intelegensianya rendah. Continue reading “Lagu lama”

Liverpool dan Barcelona

Kekalahan 0-3 Liverpool di kandang Barcelona dalam leg pertama semifinal Liga Champions (UCL) seolah memberi kejutan kepada para penggemar klub Inggris itu. Betapa tidak, Liverpool adalah kandidat juara Liga Primer (EPL), jadi mereka tentu punya kualitas.

Memang betul. Skuat Juergen Klopp memang berkualitas. Bahkan menurut saya, mereka akan keluar sebagai jawara EPL –bukan Manchester City yang sekarang sedang unggul 1 angka di dua besar klasemen.

Namun, Barcelona juga punya kualitas –bahkan harus diakui sedikit di atas Liverpool bila merujuk pada kualitas individu antar-pemain. Tetapi juga tidak lantas bahwa Liverpool pasti kalah jika menghadapi sang kampiun La Liga Spanyol itu.

Continue reading “Liverpool dan Barcelona”

Liga 1

Saya jadi bertanya-tanya apakah Indonesia memang tak mampu, jika menyebut tidak becus terlalu lebay, membuat tata kelola sepak bola dengan bagus, baik, apalagi benar.

Sebenarnya dari awal saya tak berani berharap banyak saat rezim baru PSSI pimpinan sang letnan jenderal Edy Rahmayadi terbentuk. Gerak gerik mereka dari awal memang lebih baik dibanding rezim-rezim terdahulu, apalagi rezim kali ini punya dukungan RI 1.

Namun tunggu dulu bila bicara urusan teknis manajemen sepak bola secara keseluruhan. Padahal ini lapangan utama PSSI. Ini intinya.

Manajemen timnas sejauh ini memang ok, terlepas dari fasilitas yang masih terbatas dan gagap. Ini juga masih perlu ditunggu bagaimana PSSI memanfaatkan kalender internasional, apakah mereka sudah punya rencana lawan latih tanding hingga akhir tahun dan seterusnya.

Sejauh saya duga, belum ada. Boleh jadi karena fokus PSSI adalah SEA Games 2017 dan medali emas adalah target. Itu sebabnya tata kelola pelatnas semi-panjang nan kuno itu masih dianggap solusi cespleng.Tapi ini soal lain.

Masalahnya pengelolaan liga masih jauh api dari panggang. Kapasitasnya belum beranjak dari tata kelola ISL atau Ligina.

Liga 1, nama baru sebagai bentuk penegasan sebuah rezim di bawah tata kelola perusahaan yang berkostum baru (dengan nama miskin fantasi; PT. Liga Indonesia Baru), justru terlihat melangkah mundur.

Di mana langkah mundurnya?

Liga 1 adalah level kompetisi (profesional) tertinggi di Indonesia. Namun PT. LIB (PSSI) justru mewajibkan semua klub di kasta itu wajib mengontrak lima pemain muda U-23. Sebagian dari mereka bahkan harus jadi starter pada setiap laga.

Kemudian klub juga dibatasi merekrut pemain uzur. Namun klub boleh merekrut seorang marquee player yang spesifikasinya adalah pemain ampas di kompetisi/klub utama Eropa atau Piala Dunia.

Tak beda-beda amat dengan praktik di MLS.

Lalu ada pula peraturan pergantian maksimal lima pemain bagi setiap tim dalam pertandingan. Entah wangsit dari mana yang membuat PSSI punya ide menerapkan aturan tak lazim itu.

PSSI memang punya alasan untuk sejumlah aturan main di atas. Mereka ingin menghasilkan sebanyak mungkin pemain muda U-23. Bahkan sekaligus mematangkannya.

Betapa ironis.

Pemain U-23 ingin dimatangkan dengan cepat. Lalu digodoknya di level tertinggi profesional yang aturan rimbanya adalah; siapa (relatif) mampu boleh ikut.

Liga 1 tidak seharusnya dibonsai sedemikian rupa. Pemain U-23 tidak harus menjadi pemain senior dalam seketika. Bila dia memang harus punya level senior (untuk membela kesebelasan nasional senior) biarlah itu datang dengan alami karena memenangi persaingan dan karena keunggulan keterampilannya.

Memaksa pelatih klub untuk menurunkan pemain U-23 sebagai starter justru bisa menurunkan kualitas tim/klub. Seorang pemain perlu diturunkan karena kualitasnya, bukan karena aturan. Kecuali ini bukan di kompetisi level tertinggi.

Itu sebabnya pergantian lima pemain pun menjadi aneh. Apalagi alasannya hanya ingin memberi lebih banyak jam terbang bagi banyak pemain.

Sungguh alasan yang tidak masuk nalar. Ini lagi-lagi mendobrak hukum rimba sebuah kompetisi pro yang nafasnya adalah persaingan ketat. Siapa yang punya kualitas pasti akan didahulukan pelatih, jadi bukan karena untuk memberi jam terbang.

Jadi bila ingin memberi jam terbang lebih banyak kepada pemain muda, kenapa tidak membuat kompetisi sempalan khusus yunior. Misalnya di luar liga nusantara yang masuk dalam piramida sepak bola nasional (ini sebenarnya juga belum jelas wujudnya).

Pergantian lima pemain bukan cuma mendobrak aturan resmi FIFA (untuk kasta kompetisi resmi), namun juga bisa merepotkan klub Indonesia apabila tampil di kompetisi regional Asia. Kebiasaan mengganti lima pemain adalah haram di luar negeri.

Jadi memang aneh.

Kenapa tidak membuat sejenis liga reserves yang bisa diikuti pemain maksimal U-23. Bikin aturan yang “relatif bebas” di sini karena toh juaranya atau tim juru kuncinya tak akan punya implikasi signifikan apapun pada tatanan piramida kompetisi.

Liga reserves justru bisa memberi dua keuntungan; untuk timnas dan klub. Bila ada pemain yang bagus di sana bisa jadi andalan timnas dan juga pasti diangkut klub untuk diturunkan di Liga 1.

Tapi bukankah liga reserves justru bikin bengkak ongkos operasional klub? Mereka harus punya satu tim pemain U-23 (minimal 18 pemain)? Ya itu risiko pembangunan sepak bola. Poinnya, pemain muda dibangun di level bawah –bukan di level teratas, kecuali kualitas si pemain memang terbukti cukup pantas ada di level atas.

prize money

Secara umum urusan ini relatif membaik. Di luar subsidi Rp7,5 miliar yang pembagiannya bertahap itu, PSSI menerapkan hadiah uang berdasarkan kinerja klub dalam semusim.

Bila sebuah klub berhasil juara, total uang yang diperoleh termasuk subsidi menurut sang ketua PSSI adalah sekitar Rp17 miliar. Uang datang dari pembagian kue iklan di televisi.

Sayang belum detail. Lagi-lagi ini kenapa label tidak becus terbayang di kepala.

Membuat liga tanpa aturan main detail memang sudah biasa di sini. Jadwal pun dibuat sambil jalan. Bahkan Liga 1 masih pakai “sistem turnamen” karena ada partai pembukaan –bukan serempak seperti lazimnya di Eropa.

Ya Bundesliga musim ini juga dibuka dengan partai bigmatch tunggal, tapi jadwal semusim penuh sudah tersedia. Liga 1 justru belum punya jadwal selain partai pembuka Persib vs Arema.

Namun kesan manajemen semi-pro seperti ini memang khas sepak bola Indonesia. Semoga saja Liga 1 bisa rampung seperti halnya ISL yang sebobrok apapun selalu finis hingga garis akhir, kecuali forced majeur.

 

Transfer

Mungkin baru musim panas (belahan barat) 2016 ini masa akhir bursa transfer begitu riuh. Nama tenar sejumlah pemain memberi pengaruh.

Mereka terbuang dari klub masing-masing. Padahal mereka sempat jadi tulang punggung klubnya pada musim lalu.

Sebut saja antara lain Cesc Fabregas (Chelsea), Joe Hart dan Samir Nasri (Manchester City), serta Mario Balotelli (Liverpool). Mereka dilepas klub masing-masing karena tak terpakai lagi (untuk sementara).

Pertanyaannya tentu kenapa nasib mereka baru bisa diketahui pada menit akhir transfer? Kenapa tidak dari awal?

Apakah ini bagian dari panic selling –juga panic buying– seperti kerap dibikin Arsene Wenger di Arsenal? Continue reading “Transfer”